Gender dan Hantu  

Diposting oleh heRRu


Semalam saya melintas di Galaxy Mall Surabaya, ada poster film Indonesia, judulnya Tali Pocong Perawan. Pertanyaan yang tidak penting: kenapa bukan tali pocong bujangan?

Mari kita perhatikan genderisme dalam dunia perhantuan di Indonesia. Kalau dilihat-lihat, kenapa ya  hantu-hantu atau tokoh mistis dalam filem Indonesia selalu dikaitkan dengan perempuan. Ingin contoh: sebut saja the one and only suster ngesot, sadako, si manis jembatan ancol, kuntilanak, sundel bolong, mak lampir atau kelong wewek yang dilukiskan hantu dengan payudara kemana-mana yang kerjaannya menculik anak-anak.

Icon bintang filem horror pun dijabat oleh seorang perempuan. Ya bener, Susanna! Perannya sebagai setan-setanan memang tak tergoyangkan. Masih inget film sundel bolong? Susanna dengan punggung growong nawar sate malam-malam gelap "Bang satenya bang..." iiiiyyyy....

Hantu laki-laki jarang dibicarakan dalam filem kita. Mungkin ada ozy syahrial tapi kan dia tampil sebagai hantu bencong. Jadi gak masuk hitungan. Pocong sendiri masih arguable, bisa laki-laki, bisa perempuan soalnya tonjolannya gak jelas, baik yang atas maupun yang bawah [hehehe...] Dan tidak ada pocong iseng yang mau buka-buka kainnya dengan suka rela. Lalu ada tuyul, tapi masih katagori hantu di bawah umur, jadi gak masuk hitungan juga.

Alih-alih menakutkan, hantu laki-laki malah digambarkan sebagai sosok yang sensual. Siapa yang tidak termehek-mehek kalau mewawancara vampire sekeren tom cruise yang jadi drakula dalam 'interview with vampire?' coba?

Mengapa demikian? Pertanyaan yang tidak penting memang. Tapi menurut analisa sotoy saya hantu laki-laki kurang seram jadinya kurang komersial. Didandani dengan rambut kriwul, kulit item dan sangar malah lebih mirip odong-odong daripada hantu yang menakutkan. Ada alasan lain mungkin?


[saat penulisan post yang tidak penting ini, tidak satupun hantu-hantu tersebut di atas yang disakiti maupun mengalami cedera].

This entry was posted on Friday, June 20, 2008 . You can leave a response and follow any responses to this entry through the Subscribe to: Post Comments (Atom) .

0 komentar