Akhirnya, buku Pesta Bebek keluar juga. Buku Pesta Bebek adalah buku kedua dari serial Kuliner Jalansutra yang diterbitkan oleh Pustaka Rumah setebal 95 halaman yang ditulis oleh 6 anggota tim penulis Jalansutra dan trio kwek-kwek dari Republik Bebek Surabaya.
Kisah ini bermula dari suatu senja di Alfamart after office hours. Saya sedang bengong melihat mainan telur dino ketika hape saya menjerit riang. Cindy Komporwati! 'Aya naon Neng?' sapa saya.
'Eh kita teh lagi bikin buku endebrai endebrei endebrai...' kata Cindy berbuih-buih. Intinya, mereka sedang buat buku tentang bebek se-Endonesia raya. Ngomongin bebek, tidak absah kalau tidak membahas bebek goreng dari Surabaya. Bahkan, kenyataan berbicara, di Surabaya orang lebih mudah menemukan bebek goreng daripada kalajengking goreng, misalnya.
Seketika, saya euphoria! Mata berkunang-kunang, mual, perih, perut kembung dan nyeri di uluhati [maag Om?]. Saya melihat nama saya di buku-buku, lalu saya dielus-elus, dimandikan dan dijemur tiap pagi sebelum akhirnya diadu sama ayam jantan lainnya. Bo'ong ding. 'Nulis kayak gimana Neng?'
'Nulis kayak kamu bikin review di milis, pokokna mah sedemikian rupa sehingga yang baca bisa berliur-liur bacanya'. Langsung impian saya sirna saat itu.
Mengarang itu gampang, saya masih bisa terima. Namanya saja mengarang, mau bilang Dian Sastro jadi pembantu saya terus disiksa Luna Maya yang jadi istri saya sampai Dian Sastro stress dan nyemplung sumur ya sah-sah saja. Namanya juga mengarang. Tapi kalau menulis makanan yang ada di dunia nyata dan menuliskannya sehingga orang ngiler dan pengen nyocol sambel sama tulisan kita, itu yang susah!
Tapi keinginan buat narsis mengalahkan akal sehat saat itu. Terlebih-lebih gayung bersambut dari Jie dan Fahmi. Dan memang susah sodara-sodara! Mulai dari icip-icip banyak bebek, foto yang harus diambil ulang, ngirim-ngirim gambar dengan koneksi lambreta bambang sehingga saya stress dan mencret-mencret. Tapi itu lebih baik daripada kehujanan seperti Fahmi atau dapat kuliah tujuh menit seperti yang dialami Jie.
Kata orang, berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Makan bebek dahulu, mencret kemudian, eh bikin buku kemudian. Jadi, buat siapa-siapa saja yang ingin tahu wajah saya, Jie atau Fahmi, atau mencari referensi bebek se-Endonesia raya, silakan beli bukunya :-) Kebanyakan memang bebek di Jakarta. Tapi cukup mewakili berbagai olahan bebek dari seluruh nusantara, mulai dari bebek Aceh Pidie, bebek betutu, bebek peking dan tentu saja bebek-bebek bahenol yang asoy geboy kalo jalan megal-megol dari Surabaya.
Setiap ulasan diberikan nilai plus minus, alamat dan ancer-ancer harga per porsi. Artinya, kita dibekali pengetahuan yang lumayan sebelum malu kekurangan bayar misalnya. Tempat makan dari emperan sampai restauran tersedia di buku ini.
Jadi, ayok siapa yang mau beli?
Kisah ini bermula dari suatu senja di Alfamart after office hours. Saya sedang bengong melihat mainan telur dino ketika hape saya menjerit riang. Cindy Komporwati! 'Aya naon Neng?' sapa saya.
'Eh kita teh lagi bikin buku endebrai endebrei endebrai...' kata Cindy berbuih-buih. Intinya, mereka sedang buat buku tentang bebek se-Endonesia raya. Ngomongin bebek, tidak absah kalau tidak membahas bebek goreng dari Surabaya. Bahkan, kenyataan berbicara, di Surabaya orang lebih mudah menemukan bebek goreng daripada kalajengking goreng, misalnya.
Seketika, saya euphoria! Mata berkunang-kunang, mual, perih, perut kembung dan nyeri di uluhati [maag Om?]. Saya melihat nama saya di buku-buku, lalu saya dielus-elus, dimandikan dan dijemur tiap pagi sebelum akhirnya diadu sama ayam jantan lainnya. Bo'ong ding. 'Nulis kayak gimana Neng?'
'Nulis kayak kamu bikin review di milis, pokokna mah sedemikian rupa sehingga yang baca bisa berliur-liur bacanya'. Langsung impian saya sirna saat itu.
Mengarang itu gampang, saya masih bisa terima. Namanya saja mengarang, mau bilang Dian Sastro jadi pembantu saya terus disiksa Luna Maya yang jadi istri saya sampai Dian Sastro stress dan nyemplung sumur ya sah-sah saja. Namanya juga mengarang. Tapi kalau menulis makanan yang ada di dunia nyata dan menuliskannya sehingga orang ngiler dan pengen nyocol sambel sama tulisan kita, itu yang susah!
Tapi keinginan buat narsis mengalahkan akal sehat saat itu. Terlebih-lebih gayung bersambut dari Jie dan Fahmi. Dan memang susah sodara-sodara! Mulai dari icip-icip banyak bebek, foto yang harus diambil ulang, ngirim-ngirim gambar dengan koneksi lambreta bambang sehingga saya stress dan mencret-mencret. Tapi itu lebih baik daripada kehujanan seperti Fahmi atau dapat kuliah tujuh menit seperti yang dialami Jie.
Kata orang, berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Makan bebek dahulu, mencret kemudian, eh bikin buku kemudian. Jadi, buat siapa-siapa saja yang ingin tahu wajah saya, Jie atau Fahmi, atau mencari referensi bebek se-Endonesia raya, silakan beli bukunya :-) Kebanyakan memang bebek di Jakarta. Tapi cukup mewakili berbagai olahan bebek dari seluruh nusantara, mulai dari bebek Aceh Pidie, bebek betutu, bebek peking dan tentu saja bebek-bebek bahenol yang asoy geboy kalo jalan megal-megol dari Surabaya.
Setiap ulasan diberikan nilai plus minus, alamat dan ancer-ancer harga per porsi. Artinya, kita dibekali pengetahuan yang lumayan sebelum malu kekurangan bayar misalnya. Tempat makan dari emperan sampai restauran tersedia di buku ini.
Jadi, ayok siapa yang mau beli?
This entry was posted
on Tuesday, April 22, 2008
and is filed under
mumbling,
walking around
.
You can leave a response
and follow any responses to this entry through the
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
.


0 komentar