Babi dan Global Warming  

Diposting oleh heRRu



Saya cuma pengen bilang babik!

Entah kenapa koneksi internet pake starone sungguh dodol surodol seminggu terakhir ini. Yang lucu -- tapi tidak bikin ketawa -- saya cuma bisa buka google reader, yahoo dan friendster, itupun dengan kecepatan suster ngesot. Kalau buka blogspot dan wordpress, langsung KO. Yang keliatan cuma layar kosong. Untung tidak ada Sadako yang merangkak keluar dari layar monitor saya. Semalam sempat sukses buka blogger dashboard, tapi gagal buat download gambar. Ditunggu satu jam lebih, koneksi putus nyambung, gak berhasil juga. Bener-bener babik, babik bener-bener deh.

Jadi kawan-kawan, maaf kalau saya tidak bisa blogwalking, karena cuma ini yang saya mampu. Layak disyukuri sebetulnya, di saat orang masih antri minyak tanah, busung lapar dan makan pake garam, saya masih bisa ngomel masalah koneksi internet.

Eniwei.
Justify Full

Semalam saya sempat baca tulisan Dewi Lestari tentang perayaan nyepi dan global warming. Mengerikan memang apa yang akan kita hadapi sekian tahun mendatang. Ada beberapa bacaan yang menyatakan bahwa life support bumi cuma bertahan sampai tahun 2012. Entah apa yang terjadi. Mungkin panas bumi sudah tak terperikan hingga seluruh persediaan es balok di kutub mencair semua. Ribuan pulau tenggelam. Ribuan nelayan jadi korban. Lalu arus atlantik utara berhenti dan kita disergap jaman es kembali? Only heaven knows.

Tapi kita tidak bisa berbuat apa-apa karena ketergantungan kita pada makhluk yang bernama modernisasi sudah terlalu tinggi. Kita tidak bisa hidup tanpa lampu, tanpa listrik, tanpa internet, tanpa mobil, tanpa handphone. Kita tidak bisa duduk diam dan mendengarkan desir angin atau gemerisik kentut. Lihat saja, untuk konversi minyak tanah ke elpiji saja, orang sudah ngantri sekian jam agar bisa menanak nasi hari ini.

Lalu bagaimana kalau minyak bumi habis? Ekonomi pasti runtuh. Orang ramai-ramai beralih ke biofuel. Sawah dan kebun kedelai akan berubah menjadi lahan jagung. Dan itu buat diolah sebagai pengganti bensin, bukan sebagai bahan pangan. Lalu ribuan orang akan mati kelaparan. Ngeri ya.

Lebih ngeri mana dengan ketemu suster ngesot?


This entry was posted on Friday, April 25, 2008 and is filed under , . You can leave a response and follow any responses to this entry through the Subscribe to: Post Comments (Atom) .

0 komentar