Seabad Kebangkitan Nasional

Hari ini tepat seabad kebangkitan nasional. Saya tertawa ketika pemerintah berencana membangun monumen tanah air pemuda Indonesia, yang dibangun dari 33 tanah dan 33 air dari 33 provinsi di negeri ini.

Pertanyaan saya: emang itu ngaruh gitu untuk meningkatkan semangat kebangsaan? Hayoh ngacung yang bisa jawab.

Saya sering merasa kalau negeri ini dan para pejabatnya terlalu mementingkan bentuk dan seremonial dibanding substansi masalah itu sendiri. Semangat kebangsaan merosot, lalu kita bikin perayaan dengan 30 ribu penari atau bikin monumen dari 33 tanah dan air.

Bukan saya tidak bersyukur. Tapi sebetulnya apa yang bisa kita lihat setelah seabad pendirian Boedi Oetomo? Pendidikan tetap saja menjadi barang mewah bagi kebanyakan rakyat negeri ini. Boro-boro mikir kuliah, untuk sekadar lulus ujian nasional pun merupakan perjuangan tersendiri.

Seabad kebangkitan nasional tidak membuat kita lebih maju dari negara tetangga. Seabad kebangkitan nasional tidak mampu menolong ibu-ibu miskin yang antri berjam-jam untuk sekadar beli minyak tanah untuk masak hari itu. Seabad kebangkitan nasional tidak menghilangkan kemiskinan berjuta-juta rakyat negeri ini.

Orang-orang kaya masih saja mengawinkan anaknya dengan biaya sekian juta atau milyar. Mempertontonkan kemewahan saat orang-orang yang mereka bilang 'saudara sebangsa dan setanah air' masih banyak yang makan nasi kering.

Lalu, apa yang bisa kita rayakan?

.

I'm Back!


Jumpa lagi! Jumpa dengan Om kembali!



Setelah nyaris satu bulan saya hiatus, akhirnya saya kembali meramaikan kancah blogsphere. Beribu maaf sebelumnya untuk teman-teman blogger yang sudah SMS, menyapa, bertanya, ngimel, mengapa blog saya berhenti begitu lama. Termasuk kejadian luar biasa yang saya lewatkan yaitu menemani Bang Azhar makan siang di House of Sampoerna .

Pertamax, saya memang sakit berminggu-minggu yang lalu. Demam, kepala cekot-cekot, badan nyeri, lemah dan letoy. Tes darah pun tidak menunjukkan kalau saya kena DBD atau tipes. Dokter hanya bilang saya kena serangan virus.

Keduax, komputer saya sepertinya kena virus juga. Lambat bukan alang-kepalang. Mungkin kebanyakan gambar mesum atau foto bugil. Mungkin ini jalan agar saya kembali ke jalan yang benar. Masalah teratasi setelah saya menghapus semua gambar tidak senonoh itu. Masalahnya, driver USB modem saya terhapus juga. Dan saya kehilangan disk instalasinya. Ya sutralah.

Selanjutnya, kontrakan rumah sudah habis. Mulailah ritual mencari-cari rumah yang cocok. Cocok dengan rasa, cocok dengan kantong. Mulai packing-packing. Pindahan. Menata perabotan di kontrakan baru.

Capek, memang. Sisi baiknya, saya menemukan disk instalasi USB saya. Memang selalu ada berkah di setiap kejadian. Hingga sekarang saya bisa menghadirkan posting yang tidak penting ini. Mudah-mudahan, hal-hal yang tidak penting lainnya, bisa saya hadirkan dengan lebih lancar jaya. Ameeen.

Babi dan Global Warming



Saya cuma pengen bilang babik!

Entah kenapa koneksi internet pake starone sungguh dodol surodol seminggu terakhir ini. Yang lucu -- tapi tidak bikin ketawa -- saya cuma bisa buka google reader, yahoo dan friendster, itupun dengan kecepatan suster ngesot. Kalau buka blogspot dan wordpress, langsung KO. Yang keliatan cuma layar kosong. Untung tidak ada Sadako yang merangkak keluar dari layar monitor saya. Semalam sempat sukses buka blogger dashboard, tapi gagal buat download gambar. Ditunggu satu jam lebih, koneksi putus nyambung, gak berhasil juga. Bener-bener babik, babik bener-bener deh.

Jadi kawan-kawan, maaf kalau saya tidak bisa blogwalking, karena cuma ini yang saya mampu. Layak disyukuri sebetulnya, di saat orang masih antri minyak tanah, busung lapar dan makan pake garam, saya masih bisa ngomel masalah koneksi internet.

Eniwei.
Justify Full

Semalam saya sempat baca tulisan Dewi Lestari tentang perayaan nyepi dan global warming. Mengerikan memang apa yang akan kita hadapi sekian tahun mendatang. Ada beberapa bacaan yang menyatakan bahwa life support bumi cuma bertahan sampai tahun 2012. Entah apa yang terjadi. Mungkin panas bumi sudah tak terperikan hingga seluruh persediaan es balok di kutub mencair semua. Ribuan pulau tenggelam. Ribuan nelayan jadi korban. Lalu arus atlantik utara berhenti dan kita disergap jaman es kembali? Only heaven knows.

Tapi kita tidak bisa berbuat apa-apa karena ketergantungan kita pada makhluk yang bernama modernisasi sudah terlalu tinggi. Kita tidak bisa hidup tanpa lampu, tanpa listrik, tanpa internet, tanpa mobil, tanpa handphone. Kita tidak bisa duduk diam dan mendengarkan desir angin atau gemerisik kentut. Lihat saja, untuk konversi minyak tanah ke elpiji saja, orang sudah ngantri sekian jam agar bisa menanak nasi hari ini.

Lalu bagaimana kalau minyak bumi habis? Ekonomi pasti runtuh. Orang ramai-ramai beralih ke biofuel. Sawah dan kebun kedelai akan berubah menjadi lahan jagung. Dan itu buat diolah sebagai pengganti bensin, bukan sebagai bahan pangan. Lalu ribuan orang akan mati kelaparan. Ngeri ya.

Lebih ngeri mana dengan ketemu suster ngesot?