Hari ini tepat seabad kebangkitan nasional. Saya tertawa ketika pemerintah berencana membangun monumen tanah air pemuda Indonesia, yang dibangun dari 33 tanah dan 33 air dari 33 provinsi di negeri ini.Pertanyaan saya: emang itu ngaruh gitu untuk meningkatkan semangat kebangsaan? Hayoh ngacung yang bisa jawab.
Saya sering merasa kalau negeri ini dan para pejabatnya terlalu mementingkan bentuk dan seremonial dibanding substansi masalah itu sendiri. Semangat kebangsaan merosot, lalu kita bikin perayaan dengan 30 ribu penari atau bikin monumen dari 33 tanah dan air.
Bukan saya tidak bersyukur. Tapi sebetulnya apa yang bisa kita lihat setelah seabad pendirian Boedi Oetomo? Pendidikan tetap saja menjadi barang mewah bagi kebanyakan rakyat negeri ini. Boro-boro mikir kuliah, untuk sekadar lulus ujian nasional pun merupakan perjuangan tersendiri.
Seabad kebangkitan nasional tidak membuat kita lebih maju dari negara tetangga. Seabad kebangkitan nasional tidak mampu menolong ibu-ibu miskin yang antri berjam-jam untuk sekadar beli minyak tanah untuk masak hari itu. Seabad kebangkitan nasional tidak menghilangkan kemiskinan berjuta-juta rakyat negeri ini.
Orang-orang kaya masih saja mengawinkan anaknya dengan biaya sekian juta atau milyar. Mempertontonkan kemewahan saat orang-orang yang mereka bilang 'saudara sebangsa dan setanah air' masih banyak yang makan nasi kering.
Lalu, apa yang bisa kita rayakan?
.


